Pengusaha Katering Jadi Duta Kuliner Solo

Penyajian Katering

Pengusaha katering diharapkan menjadi duta kuliner dengan menyuguhkan aneka makanan tradisional Solo. Mereka juga diharapkan bergabung dalam Asosiasi Perusahaan Jasa Boga Indonesia (APJI) karena rekomendasi laik sehat diberikan oleh organisasi tersebut. Ketua APJI Jateng, Lilik Agus Gunarto, menyampaikan kuliner Solo telah diakui kelezatannya dan menjadi salah satu pusat kuliner di Indonesia. Oleh karena itu, sangat penting untuk mempertahankan kuliner lokal ini dengan cara mengenalkannya lewat penyajian katering kepada masyarakat luas.

“Solo merupakan salah satu kota kunjungan wisata kuliner sehingga harus tetap dipertahankan dengan menjadikan sebagai menu katering. Selain itu, seluruh pengusaha katering diharapkan bisa bergabung dengan APJI,” ungkap Lilik saat pelantikan pengurus APJI Solo di Njah Djambon Resto, Solo, Selasa (25/4). Dia mengungkapkan kepengurusan yang baru dilantik ini adalah periode ke-2 karena sebelumnya sempat vakum meski di Jateng APJI ada sejak 30 tahun lalu. Saat ini baru ada 12 cabang di Jateng. Namun, tahun ini diharapkan bisa menjadi 25 cabang dari 35 kabupaten/ kota se-Jateng. “Di Jateng ada lebih dari 1.000 katering tapi belum seluruhnya menjadi anggota APJI,” kata dia. Peran APJI penting mengingat pertumbuhan bisnis katering yang pesat. Apalagi, masyarakat kini ingin praktis dan tidak mau repot saat punya acara.

Menu Katering

Ketua APJI Solo, Fahmi Mulachela, berencana bekerja sama dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Solo untuk menarik kepesertaan dalam APJI. Selain itu, pihaknya juga akan menyiapkan beberapa keuntungan yang bisa dinikmati pelaku usaha dengan bergabung menjadi anggota, seperti lebih diutamakan mendapat pelatihan, kesempatan bekerja sama dengan instansi pemerintah, hingga pengurusan izin usaha harus menyertakan rekomendasi dari APJI. “Saat ini baru ada 40-an anggota yang aktif. Padahal di Solo ada lebih dari 250 katering. Harapannya tidak hanya pelaku bisnis kuliner di Solo yang bergabung tapi juga luar kota, seperti Sukoharjo, Karanganyar, Klaten hingga Wonogiri,” ujarnya.

Menurut dia, ke depan APJI tidak hanya akan memberi rekomendasi laik sehat tapi juga untuk kehalalan makanan. Selain itu, organisasi ini diharapkan bisa menjadi penyeimbang bisnis katering yang semakin ketat, mengingat restoran hingga hotel mulai merambah bisnis ini. Standardisasi Harga Dia mengatakan persaingan yang ketat mengarah pada perang harga menu yang disajikan. Oleh karena itu, Fahmi berharap ada standardisasi harga, tidak hanya untuk makanan tapi juga untuk pramusaji. “Saat ini tidak ada standardisasi harga katering. Kalau dulu, harga makanan itu berubah hanya setahun sekali. Namun selama tiga tahun terakhir, harga bisa berubah setiap pekan karena mengikuti harga bahan makanan di pasar,” imbuhnya.

Ketua Panitia Pelaksana, Asmiatiningsih, mengatakan sedikitnya anggota disebabkan minimnya sosialisasi sehingga tidak banyak pemilik katering yang mengetahui organisasi tersebut. Dia menjelaskan keanggotaan APJI tidak terbatas pada pengusaha katering, tapi seluruh penyedia makanan. APJI juga mengadakan festival makanan untuk mengenalkan makanan tradisional. Festival tersebut tidak hanya digelar di dalam negeri, melainkan di luar negeri. Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Solo, Subagiyo, menyampaikan APJI diharapkan dapat menyatukan dan menjadi wadah komunikasi pelaku usaha kuliner untuk meningkatkan pengetahuan dan profesionalitas anggota. Selain itu, agar tercipta persaingan bisnis yang sehat.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*