Kulit Kodok Antara Jijik dan Memikat Hati Lifestyler

kulit kodok

Kulit Kodok yang terlihat menjijikan dan sangat tipis mungkin bukanlah hal yang lumrah untuk dijadikan sebuah bahan baku kerajinan kulit pada umumnya. Beberapa kulit binatang yang selama ini sering dipakai, seperti kulit ular, buaya, ikan pari dan sapi. Namun, masih jarang yang menggunakan kulit kodok sebagai bahan baku produk.  Salah satu produsen yang menggunakan kulit kodok sebagai bahan baku produk adalah Frogsi, The Indonesian Exotic Leather dari malang. Pemilik usaha ini, Sri Purnomo bilang, pembuatan produk fesyen berbahan kulit kodok masih tergolong baru.  “Kulit kodok ini saya pakai sebagai bahan pembuatan tas dan dompet karena  motifnya yang unik dan jarang ada,” jelasnya.

kulit kodok

Karena pemakaian kulit kodok masih jarang, ia mengklaim, produk tas dan dompetnya berbeda dari yang lain. “Setidaknya itu menjadi ciri khas produk saya,” ujarnya.  Menurut Sri Purnomo, pemanfaatan kulit kodok sebagai bahan pembuatan tas dan dompet tidak gampang. Perlu keahlian khusus dalam mengolah kulit kodok sehingga menarik dan memiliki kesan eksotis. “Selain itu pasokan kodoknya juga sulit diperoleh tp untuk saat ini sudah lumayan para peternak kodok jenis Bulfrog yang kulitnya luamayan besar,” ujarnya.

Selama ini, ia mendapat pasokan kodok dari Yogyakarta dan Ponorogo. Sri Purnomo mengaku telah memulai usaha ini sejak tahun 2005. Selain kulit kodok, ia juga menggunakan kulit binatang lain sebagai bahan baku, seperti kulit buaya dan kambing. Selain tas dan dompet, ia juga memproduksi jaket dan sepatu wanita. Aneka produk fesyen yang dihasilkannya itu dibanderol mulai dari Rp 250.000 – Rp 10 juta per buah. Sri Purnomo mengaku bisa meraup omzet rata-rata hingga Rp 50 juta per bulan. Namun, jika sedang ada pameran, omzetnya bisa mencapai Rp 70 juta. Biasanya, Sri Purnomo mengikuti pameran sebanyak tiga kali dalam setahun.

kulit kodok

Pelanggannya berasal dari beberapa daerah di Indonesia dan luar negeri , seperti Jakarta, Yogyakarta, Palembang, Bengkulu, Makassar dan beberapa negara di Asia maupun Eropa. Ia bilang, bisnis kerajinan dari kulit binatang ini prospeknya bagus. Sri Purnomo, pemilik Frogsi ini mendapat permintaan kerajinan tas atau dompet cukup tinggi. Cara pemasaran yang dilakukan oleh Sri Purnomo purnomo ini sebenarnya tidaklah ribet. Sri Purnomomenggunakan beberapa cara yaitu dengan cara mengikuti pameran tadi, menitipkan barang-barang kerajinannya di outlet di mall-mall dan menawarkannya secara online di beberapa situs sosial media maupun marketplace.

Karena dalam sehari ia hanya dapat memproduksi sekitar 100 barang maka saat ini Sri Purnomo hanya dapat menerima pesanan terbatas dan sisanya ialah barang ready stock untuk dijual secara masal. Akan tetapi saat sampai sekarang pesanan yang diterima Sri Purnomo masihlah overload karena produknya yang unik dan kualitasnya yang sangat bagus dan awet.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*