Yohanes Chandra: Kebijaksanaan Leluhur Sering Dikambinghitamkan

Yohanes Chandra: Kebijaksanaan Leluhur Sering Dikambinghitamkan2

Yohanes Chandra: Kebijaksanaan Leluhur Sering Dikambinghitamkan

Yohanes Chandra Eka sebagai sahabat karib dari Ki Sambarlangit pernah mengatakan bahwa sesungguhnya, dalam kehidupan modern saat ini banyak sekali hal-hal yang sering mengkambinghitamkan kebijaksanaan dan ajaran-ajaran luhur dari nenek moyang. Hal tersebut mudah sekali dilihat dalam program-program yang disiarkan di televisi.

Banyak film televisi atau pun sinetron yang bergenre religi selalu menghadirkan tokoh-tokoh antagonis atau bisa disebut “aliran hitam” yang mengenakan simbol-simbol adat. Chandra Ekajaya sering melihat bahwa para penjahat yang biasanya berperan sebagai dukun selalu mengenakan baju-baju Jawa, entah itu surjan, blangkon, atau pun batik dan kain jarik.

Selain itu, bagi Chandra Ekajaya supranatural adalah berkaitan dengan upaya untuk menemukan Tuhan dan menyatukan diri dalam gelombangnya. Sahabat Ki Sambarlangit ini pun telah menguasai dan memahami beberapa ajaran dan wejangan yang pernah diceritakan kepadanya.

Ilmu tentang ketuhanan atau yang disebut dengan teologi sering mencampuri wilayah dan ranah adat, kebudayaan, dan ajaran kuno dari leluhur. Yohanes Chandra sering merasa sedih bercampur geram. Sebab, bagaimana pun juga ajaran-ajaran kuno atau kebijaksanaan para leluhur adalah pencarian para orang tua sebelum kita dalam mencari hakikat hidup dan kehidupan.

Yohanes Chandra: Kebijaksanaan Leluhur Sering Dikambinghitamkan2

Yohanes Chandra Eka sering memberikan pengertian dan pemahaman kepada kawan-kawannya mengenai kebijaksanaan kuno. Ajaran dari para leluhur selalu dan pasti mengajarkan tentang sikap dalam berkehidupan. Ajaran itu diistilahkan dengan ajaran budi pekerti.

Budi pekerti menurut Chandra Ekajaya adalah suatu ajaran dan pengamalan yang meliputi tutur kata, sikap, tata krama, moral dan nilai. Oleh sebab itu sangatlah disayangkan jika ajaran yang memuat nilai, teori, cara, dan pengamalan yang sangat dalam, matang, dan indah tersebut harus dikambinghitamkan oleh teologi timur tengah dan rasionalitas ilmu pengetahuan barat.

Menurut Chandra Ekajaya supranatural intinya adalah eling lan waspada, yang dalam bahasa Indonesia berarti ingat dan waspada. Ingat bisa dimaknai secara luas dan dalam, begitu juga waspada. Tingkat pemahaman dan kematangan diri

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*