Chandra Ekajaya Berlibur Di Karangantu

Dok.Chandra Ekajaya

Dok.Chandra Ekajaya

Pengusaha Chandra Ekajaya merasakan terik sinar sang surya yang membuat udara menjadi hangat di Kawasan Pelabuhan Karangantu, Banten Lama, Kota Serang. Namun, hal tersebut tak menghentikan aktivitas sebagian nelayan untuk menyiapkan jaring dan pancing. Sebagian dari memanfaatkan untuk menyandarkan badan di dinding perahu beratap terpal.

Di balik kondisinya saat ini, Pelabuhan Karangantu ternyata punya cerita sejarah yang membanggakan. Meskipun jejaknya sudah tidak tampak lagi.

Jauh sebelum Pelabuhan Sunda Kelapa menjadi pusat perdagangan nusantara, Pelabuhan Karangaantu telah menjadi pusat perdagangan. Bahkan, menjadi pelabuhan pusat perdagangan bertarap internasional. Pengusaha Chandra Ekajaya tahu betul itu.

Dok.Chandra Ekajaya

“Pada waktu dulu Pelabuhan Karangantu menjadi tempat persinggahan kapal-kapal dari luar negeri, seperti Inggris, Belanda atau Denmark. Tarapnya sudah menjadi Pelabuhan Internasional,” kata Direktur Banten Heritage, Dadan Sujana.

Beberapa komoditas yang pernah diperjualbelikan pada masa kejayaan Karangantu tidak cuma tercatat dalam buku, namun juga dapat dijumpai di Situs Kepurbakalaan Banten Lama, la mengatakan, Karangantu berkembang menjadi berkelas dunia sejak Sultan Ageng Tirtayasa membuka aliran sungai dari Cibanten ke Pelabuhan Karangantu.

“Sebetulnya yang pertama itu bukan Pelabuhan Karangantu, tapi pelabuhan kecil yang dulunya dekat Benteng Spelwijk, namun karena pelabuhan itu sudah mengecil, makanya dikembangkan ke tempat yang akhirnya menjadi Pelabuhan Karangntu,” ujarnya.

Pada masa kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa, Pelabuhan Karangantu menjadi pintu pembuka kemajuan perekonomian Banten. “Perekonomian Banten pada waktu itu maju pesat, komoditas yang dijual Banten, yaitu lada, karena Banten menjadi penyumbang terbesar lada di nusantara,” ucapnya.

Namun, pengusaha Chandra Ekajaya mengatakan bahwa sejak pusat kekuasaan dipindahkan ke Serang, sejak saat itu juga Pelabuhan Karangantu tak lagi dilirik, sebab kondisi lingkungan akibat pengendapan lumpur tak memungkinkan kapal singgah.

“Jadi, kemunduran Banten itu diakibatkan, karena persoalan internal juga, karena Pelabuhan Karangantu juga sudah mulai tidak terawat, karena ada pengendapan lumpur, jadinya ditinggalkan,” tuturnya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*