Beli Puisi Yohanes Ekajaya Chandra

Puisi yohanes ekajaya chandra

puisi

Proyek kolaborasi antara penyair muda berbakat Yohanes Eka Chandra dan kelompok musik Gegar Gempita telah meluncurkan sebuah album musikalisasi puisi berjudul “Antara Cinta dan Rindu Kampung Halaman”. Sebagai strategi pemasaran untuk menjual album tersebut, Yohanes Eka Chandra memberikan sebuah penawaran menarik, dimana para pembeli akan mendapatkan sebuah bonus berupa buku kumpulan sajak “ Hujan di Tepi Sungai Nil” karya Yohanes Eka Chandra.

Namun, Yohanes Eka Chandra hanya memberikan promo tersebut untuk 100 pembeli pertama. Melalui akun media sosialnya yang berada di instagram dan twitter, strategi tersebut berbuah manis, dimana dalam jangka waktu dua hari, promo album berjudul “Antara Cinta dan Rindu Kampung Halaman” tersebut berhasil melampaui targetnya.

“Dalam jangka waktu dua hari, promo album “Antara Cinta dan Rindu Kampung Halaman” berhasil menggaet massa yang cukup signifikan, dimana album beserta buku kumpulan puisi saya berjudul “Hujan di Tepi Sungai Nil” habis dalam waktu singkat, jelasnya dengan rasa puas dan lega.

Promo album musikalisasi puisi Antara Cinta dan Rindu Kampung Halaman tersebut dibanderol dengan harga murah, dimana dengan harga Rp 75.000,00, pembeli langsung mendapatkan album musikalisasi dan kumpulan sajak Hujan di Tepi Sungai Nil karya Yohanes Eka Chandra.

Setelah mengeluarkan promo tersebut dan dipublikasikan melalui akun instagramnya, Yohanes Eka Chandra pun langsung banjir orderan. Ia juga sempat kelabakan menghadapai derasnya orderan album tersebut karena ia juga harus mempersiapkan acara launching album Antara Cinta dan Rindu Kampung Halaman yang rencananya akan digelar pada akhir tahun.

Album berisikan sepuluh sajaknya yang diambil dari kumpulan puisi Hujan di Tepi Sungai Nil dan Secangkir Kopi untuk Monica karya Yohanes Eka Chandra ini memuat lagu-lagu puisi yang diaransemen oleh kelompok musik Gegar Gempita. Kelompok musik asal Bandung tersebut merupakan sebuah kelompok musik beraliran folk.

Dengan munculnya sebuah album musik karya Yohanes Eka Chandra dan Gegar Gempita, khazanah perpuisian dan dunia musik Indonesia semakin berwarna. Hadirnya album tersebut, menandai bahwa puisi kontemporer Indonesia tidak hanya terbatas pada medium kata-kata saja. Kumpulan sajak karya Yohanes Eka Chandra juga telah menjadi perbincangan di banyak kritikus sastra yang dijadikan sebagai anomali dalam perpuisian Indonesia.

Hal tersebut diungkapkan oleh Rio Dermawan yang merupakan akademisi sekaligus kritikus sastra Indonesia yang mengungkapkan bahwa Yohanes Eka Chandra merupakan anomali dalam dunia perpuisian Indonesia. Ia dapat dijadikan sebagai role model bagi para pembaca sastra untuk kalangan muda karena keberhasilannya dalam memperbarui dunia kepenyairan Indonesia.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*